Selamat Datang di Website Edukasi Kimia

Website ini dirancang sebagai salah satu wujud pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya pada Kimia. Dalam website ini dimuat materi materi pembelajaran serta contoh silabus dan RPP yang dapat membantu guru dalam melakukan pembelajaran kimia

Web ini masih dalam tahap rancangan dan belum disempurnakan oleh pendesain. Berikanlah komentar tentang blog ini sebagai refleksi dan evaluasi agar lebih bermanfaat untuk kita semua.

Materi Pembelajaran Kimia

Konten dari menu ini adalah berbagai pilihan materi kimia. Baik Kimia Dasar, Organik, Anorganik, Analisis dan Kimia Fisik. Silahkan Klik untuk masuk pada konten ini.

Pembelajaran Kimia

Konten dari menu ini adalah berbagai pilihan cara membelajarkan kimia pada siswa baik Metode, Model, Pendekatan, dan Pembelajaran Kuantum. Silahkan Klik untuk masuk pada konten ini.

Download

Dalam menu ini anda dapat mendownload berbagai item mengenai pembelajaran kimia baik Silabus, Rpp, Contoh soal maupun jurnal penelitian yang dapat membantu anda dalam mengembangkan pembelajaran di kelas.

Tahukah Kamu

Dalam Menu ini terdapat informasi informasi yang menambah pengetahuan baik dalam pengetahuan ilmiah maupun pengetahuan dalam melakukan pembelajaran Kimia.

Information and Communication Technologies

Dalam menu ini terdapat berbagai informasi tentang cara membuat sebuah pembelajaran berbasis komputer yang dapat membantu siswa serta guru dalam proses pembelajaran.

Senin, 09 Juli 2012

Story Board, Kajian, dan Kerangka Berfikir Media Konduktivitas Larutan

Posting ini diterbitkan untuk pemenuhan tugas Media Pembelajaran Kimia

Kajian Media
Dalam penyampaian suatu materi pembelajaran, agar lebih berkesan pada benak siswa, hendaknya digunakan suatu media yang dapat mengkonstruksi imajinasi siswa menjadi sebuah gambaran yang nyata. Adobe Flash Player dirasakan menjadi media yang cocok diterapkan dalam pembelajaran materi elektrolit dan non-elektrolit. Pada materi ini konsep tidak hanya diterangkan secara mentah kepada siswa, namun diharapkan apa yang disampaikan oleh guru dapat ditangkap dengan siswa dengan baik. Suatu animasi larutan NaCl dan larutan gula dapat dijadikan suatu contoh dalam menjelaskan perbedaan yang spesifik antara larutan elektrolit dan non-elektrolit. Dengan animasi tersebut, materi akan tertanam dalam long term memory siswa dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna.


Kerangka Berfikir
Kita semua dapat mengetahui dari percobaan antara gula(sukrosa) dengan garam dapur (NaCl) yang larut dalam air bahwa sifat larutan yang dihasilkan sangat berbeda. Ketika molekul molekul sukrosa larut dalam air, larutan itu menghasilkan molekul molekul netral sukrosa yang yang dikelilingi oleh molekul air. Ketia NaCl, senyawa ionik, larut dalam air, larutan yang dihasilkan adalah ion  dan ion .Karena adanya ion tersebut, larutan NaCl menghantarkan arus, tetapi sukrosa tidak menghantarkan arus listrik.

Story Board 
Berikut ini adalah rancangan media pembelajaran kimia pada materi konduktivitas larutan elektrolit yang dirancang dengan program Adobe Flash CS3 yang berisi tentang animasi, simulasi dan evaluasi dengan desain ber-lembar jawab.

Media Pembelajaran
Berikut dapat anda unduh file selengkapnya tentang media pembelajaran kimia materi Konduktivitas Larutan

Posting oleh Admin 

Jumat, 18 Mei 2012

Apa Arti Green Chemistry?

Green Chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan penghasilan zat-zat (substansi) berbahaya.
Konsep Green Chemistry itu sendiri berasal dari Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, dan Kima Analitik. Bagaimanapun juga, konsep ini cenderung mengarah ke aplikasi pada sektor industri. Patut digarisbawahi di sini, bahwa Green Chemistry berbeda dengan Environmental Chemistry (Kimia Lingkungan). Perbedaannya adalah sebagai berikut.

Green Chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan, Environmental Chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia.
Menurut Ryoji Noyori,peraih hadiah Nobel Kimia pada tahun 2001,terdapat 3 kunci perkembangan Green Chemistry. Yaitu, penggunaan Supercritical Carbon Dioxide sebagai pelarut, larutan Hidrogen Peroksida untuk proses oksidasi yang bersih (clean oxidation), dan penggunaan Hidrogen dalam sintesis kiral (chiral synthesis).

Marilah kita tinjau beberapa sektor diatas….
Supercritical Carbon Dioxide adalah karbon dioksida (CO2) yang berada dalam fase cair (liquid phase)
,yang berada di atas ataupun pada temperatur dan tekanan kritis. Yaitu pada temperatur 31,1oC ke atas dan tekanan 73,3 atm. Zat ini banyak dimanfaatkan sebagai pelarut dalam industri,dikarenakan oleh zat ini memiliki kandungan racun yang rendah dan memiliki tidak memiliki dampak lingkungan yang berarti. Selain itu, rendahnya temperatur dari proses dan stabilitas CO2 memungkinkannya berfungsi sebagai pelarut layaknya aqua distilata.

Hidrogen Peroksida (H2O2), adalah suatu senyawa yang lazim digunakan sebagai dalam proses pemutihan kertas (paper-bleaching) dan desinfektan. Hidrogen Peroksida merupakan salah satu senyawa yang tergolong ke dalam oksidator kuat. Melalui proses katalisasi, dapat dihasilkan radikal hidroksil (-OH) yang memiliki potensial oksidasi dibawah Fluor (F). Keunggulan Hidrogen Peroksida dibandingkan senyawa yang lain adalah, senyawa ini tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Selain itu, kekuatan oksidatornya dapat disesuaikan (adjustable).

Sintesis kiral (chiral synthesis), adalah suatu proses sintesis organik yang menghasilkan suatu senyawa dengan elemen kiralitas yang diinginkan. Ada tiga jenis pendekatan kepada sintesis kiral, salah satunya adalah Katalisasi Asimetris (Assymetric Catalysis). untuk lebih jelas mengenai mekanismenya, dapat anda lihat ke http://nobelprize.org/nobel_prizes/chemistry/laureates/2001/public.html. Pada intinya, teknik yang dikembangkan oleh William S. Knowles, Ryoji Noyori, dan K. Barry Sharpless ini menunjukkan bahwa langkah dari penelitian skala kecil menuju ke arah aplikasi industri dapat terjadi secara singkat. Selain itu, penemuan mereka sangat bermanfaat bagi pengembangan industri farmasi / obat-obatan.

Green Chemistry itu sendiri memiliki 12 asas, antara lain
1. Menghindari penghasilan sampah
2. Desain bahan kimia dan produk yang aman
3. Desain sintesis kimia yang tak berbahaya
4. Penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable)
5. Penggunaan katalis
6. Menghindari bahan kimia yang sifatnya derivatif (chemical derivatives)
7. Desain sintesis dengan hasil akhir (produk) yang mengandung proporsi maksimum bahan mentah
8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman
9. Peningkatan efisiensi energi
10. Desain bahan kimia dan produk yang dapat terurai
11. Pencegahan polusi
12. Peminimalan potensi kecelakaan kerja

Seiring berkembangnya waktu, kesadaran para pelaku industri akan konsep ini semakin berkembang. Hampir setiap industri di negara-negara maju mulai menerapkan konsep kerja ini. Sementara itu, para ilmuwan pun banyak yang mulai mengadakan penelitian mendalam mengenai segala sesuatu mengenai konsep ini. Bahkan sejak tahun 1995, dibagikan The Presidential Green Chemistry Challenge Awards, kepada individu ataupun korporat yang dianggap telah turut andil dalam memberikan inovasi dalam Green Chemistry. Semua ini, dilakukan dengan satu tujuan. Yaitu, untuk menyelamatkan bumi kita yang tercinta ini.
Kegiatan laboratorium tidak lepas dari penggunaan bahan kimia yang kurang ramah terhadap lingkungan. Untuk menuju green chemistry diperlukan kiat-kiat untuk menerapkan 12 prinsip di atas.

Modul Dasar Belajar Animasi Interaktif Flash

Berikut adalah Modul dasar belajar animasi interaktif menggunakan Macromedia Flash 8. Cara ini juga dapat diterapkan pada Adobe Flash CS 3. Silahkan download modul ini dan pelajarilah secara berurutan agar anda tidak bingung. Selamat Mencoba!!

Modul Flash 1
Modul Flash 2
Modul Flash 3
Modul Flash 4
Modul Flash 5
Modul Flash 6
Modul Flash 7
Modul Flash 8
Modul Flash 9
Modul Flash 10

Mekanisme Reaksi Kimia


Mekanisme reaksi adalah urutan langkah langkah yang menggambarkan cara sebuah reaktan membentuk produk. Satu langkah dalam mekanisme reaksi disebut reaksi sederhana (elementary reaction). Untuk menjelaskan perbedaan yang krusial antara reaksi dasar dan reaksi keseluruhan (overall reaction), mari kita lihat reaksi fase gas dari nitrogen dioksida dan karbon monoksida membentuk oksida nitrit dan karbon dioksida. Pembuktian secara eksperimen terhadap reaksi tersebut didapatkan dua langkah mekanisme reaksi.
 Pada reaksi dasar yang pertama, dua molekul bertabrakan dengan energi yang cukup untuk memutuskan satu ikatan N-O dan dari lainya, dengan mentransfer satu atom oksigen dari satu molekul NO2 ke lainya. Pada langkah kedua, molekul yang terbentuk pada langkah pertama bertabrakan dengan molekul CO, terjadilah transfer atom oksigen dari ke CO menghasilkan molekul dan .
Persamaan kimia dari sebuah reaksi dasar adalah gambaran dari sebuah molekul yang melakukan pemisahan atau penggabungan ikatan. Sangat berbeda dengan persamaan kimia yang seimbang pada sebuah reaksi keseluruhan yang hanya digambarkan oleh stoikiometri dari proses keseluruhan, namun tidak memberikan informasi tentang berlangsungnya reaksi. Persamaan reaksi dari dan CO seperti contoh tersebut menjelaskan kepada kita bahwa reaksi tersebut tidak langsung terjadi transfer oksigen dari molekul dan CO.
 Reaksi dasar dalam kaitan mekanisme reaksi jika ditambahkan, memberikan reaksi keseluruhan. Ketika kita menjumlahkan langkah dasar reaksi dengan CO dan kemudian dicorat coret molekul yang ada dalam kedua sisi, kita memperoleh reaksi keseluruhan.

 Spesi yang terbentuk dari satu langkah mekanisme reaksi dan hilang pada langkah selanjutnya, seperti pada contoh, dinamakan reaksi intermediate. Reaksi intermediate tidak muncul pada penulisan reaksi keseluruhan. Reaksi tersebut hanya terlihat pada langkah langkah dasar .



Reaksi dasar dikelompokkan berdasarkan kemolekularanya, nomor molekul (atau atom)  pada sisi reaktan dalam persamaan reaksi kimia. Reaksi Unimolekular adalah reaksi dasar yang terdiri dari satu molekul reaktan. Contoh pada dekomposisi ozone dalam atmosfer.

 Tanda bintang pada   menandakan bahwa molekul ozon adalah pada keadaan eksitasi energi, karena telah menyerap sinar ultraviolet dari matahari. Energi yang diserap menyebabkan satu dari dua ikatan O-O terpisah dengan melepaskan 1 atom oksigen.

Reaksi Bimolekular adalah reaksi dasar memberikan suatu produk dari sebuah tabrakan berenergi dari dua molekul reaktan. Sebagai contoh kita ambil dari proses kimia dalam atmosfer yaitu reaksi dari molekul ozon dengan oksigen menghasilkan dua molekul .


 Baik reaksi unimolekular dan bimolecular adalah wajar, tapi reaksi termolekular dimana terdiri dari tiga atom atau molekul, langka. Semua orang tahu bahwa tiga benda bertumbukan lebih jarang terjadi daripada dua benda bertumbukan. Ada beberapa reaksi, walaupun terjadi antara 3 atom bertumbukan, namun yang terbentuk hanyalah molekul diatomik. Sebagai contoh, oksigen pada lapisan atmosfer terbentuk dari hasil tumbukan antara tiga atom, namun molekul M tidak akan berikatan.
 Pada atmosfer, M mirip dengan namun pada prinsipnya dapat menjadi berbagai atom atau molekul. Peran M adalah untuk membawa energi yang dilepaskan ketika O-O terbentuk. Jika M tidak terlibat dalam tumbukan, 2 atom oksigen akan bertumbukan secara sederhana dan tidak ada reaksi yang terjadi.

Hukum Laju Reaksi dan Orde Reaksi


Laju dekomposisi suatu senyawa, tergantung pada konsentrasinya. Semakin rendah konsentrasinya maka laju akan semakin lambat. Mari kita lihat reaksi umum berikut.
                                                               a A    + b B  →   Produk
dimana A dan B adalah reaktan, dan a dan b adalah koefisien stoikiometrik pada persamaan reaksi yang setimbang. Ketergantungan laju reaksi pada konsentrasi masing masing reaktan diberikan sebuah persamaan yang disebut hukum laju reaksi.  Hukum laju reaksi ditulis dalam bentuk 

dimana k adalah tetapan laju reaksi. Kita secara bebas mengungkapkan laju sebagai laju penguraian A (-∆[A]/ ∆t). Namun kita dapat menyamai persamaan tersebut sebagai laju penguraian dari berbagai reaktan (seperti -∆[B]/ ∆t) atau sebagai laju terbentuknya produk. Pangkat m dan n pada hukum laju reaksi menandakan pengaruh laju terhadap perubahan [A] dan [B] dan tidak berhubungan dengan koefisien a dan b pada oersamaan setimbang. Untuk reaksi yang sederhana, pangkatnya berupa bilangan bulat kecil positif. Untuk reaksi yang lebih kompleks, pangkat dapat bernilai negative, nol atau pecahan.

Nilai pangkat 1 mengartikan bahwa laju reaksi tergantung secara linear pada konsentrasi pada reaktan.. Jika m= 2 dan [A] 2 kali lipat , 4 kali lipat dan laju reaksi bertambah 4 faktor. Gambar menunjukkan seberapa pengaruh laju reaksi terhadap nilai pangkat. Ketika m 0, laju tidak terpengaruh pada konsentrasi, karena . Ketika m negatif, laju menurun sesuai bertambahnya [A]. Sebagai contoh, jika m=-1 dan [A] 2 kali lipat, adalah setengah dan laju menurun 2 faktor.
Nilai pengkat m dan n menentukan orde reaksi dimana jumlah dari pangkat (m + n) diartikan sebagai orde reaksi keseluruhan
m = 2   n = 1 dan m + n = 3 

Misalkan pada A mengalami orde reaksi ke 2 pada B orde reaksi pertama, maka orde reaksi keseluruhanya adalah orde reaksi ketiga. Nilai pangkat dalam hukum laju reaksi dapat ditentukan dengan percobaan,hal itu dapat didapatkan pada stoikiometri reaksi.
 Pada table ditunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara koifisien stoikiometri dengan pangkat dalam hukum laju. Pada reaksi pertama, koefisien dan   pada persamaan yang setimbang, bernilai 1, tapi pangkat hukum laju reaksi adalah 1 untuk dan 0 untuk .
 

Rabu, 16 Mei 2012

Reaksi Oksidasi - Reduksi (Redoks)

 
Logam magnesium terbakar di udara dengan memancarkan sinar putih terang untuk membentuk padatan Magnesium Oksida. Fosfor merah bereaksi dengan brom cair membentuk cairan phosphorus tribromide. Larutan ungu permanganant bereaksi dengan ion larutan menghasilkan dan   yang berwarna merah muda. Selain itu, terdapat ribuan reaksi lain yang memiliki karakteristik tersebut, semua itu dinamakan reaksi oksidasi-  reduksi.

Menurut historis, kata oksidasi mengacu pada kombinasi dari sebuah unsure dengan oksigen dan membentuk suatu oksida. Dan kata reduksi mengacu pada pelepasan oksigen dari suatu oksida. Begitulah proses oksidasi-reduksi dan menjadi sesuatu yang krusial dalam perkembangan masyarakat serta mempunyai peranan yang sangat besar dalam bidang komersial. Oksidasi (perkaratan) dari logam besi oleh udara lembab telah diketahui sejak berabad abad dan kini masih merupakan masalah serius yang menyebabkan kerusakan pada gedung, jembatan, dan mobil. Reduksi dari bijih besi () dengan arang (C ) membentuk logam besi telah diketahui sejak masa pra-historis dan sekarang masih digunakan dalam proses pembuatan baja.


Sekarang kata oksidasi dan reduksi telah diartikan lebih luas. Oksidasi sekarang diartikan sebagai kehilangan satu atau lebih electron dari sebuah zat, unsur, seyawa ataupun ion dan reduksi adalah kelebihan satu atau lebih electron dari sebuah senyawa. Dapat disimpulkan bahwa sebuah reaksi oksidasi-reduksi atau reaksi redoks ialah sebuah proses dimana electron berpindah dari satu zat ke zat lain.

Bagaimana kita dapat mengetahui reaksi mengalami reaksi redoks? Jawabanya dapat kita lihat pada masing masing atom dalam suatu senyawa memiliki suatu nilai yang disebut bilangan Oksidasi (biloks), yang menandakan atom itu netral, kelebihan electron atau kekurangan electron. Dengan membandingkan bilangan oksidasi, dari sebuah bilok atom sebelum dan setelah reaksi, kita dapat menyimpulkan bahwa atom tersebut bertambah atau berkurang elektronya. Perhatikan bahwa bilok tidak mengartikan muatan ion. Biloks hanya cara yang digunakan untuk mempermudah dalam melacak jejak electron dalam suatu reaksi redoks.
Aturan dalam menandai biloks adalah sebagai berikut :
1.      

      1. Sebuah atom pada kondisi dasarnya hanya memiliki bilangan Oksidasi 0
2. Atom pada kondisi ion monoatomik mempunya biloks sesuai dengan muatanya         
      3. Atom pada ion poliatomik atau pada molekul biasanya memiliki biloks yang sama saat atom tersebut       berada pada keadaan ion monoatomik.Seperti pada ion hidroksida () sebagai contoh adalah biloks oksigen adalah -2, seperti pada keadaan ion oksigen, dan hydrogen memiliki biloks +1 seperti pada .
Pada umumnya semakin ke kiri dari sebuah table periodic, atom atom cenderung membentuk “seperti kation”. Logam pada umumnya memiliki biloks positif.  Semakin kekanan atom pada sebuah table periodic akan lebih cenderung “seperti anion”. Non-logam, seperti O, N, dan golongan halogen, biasanya memiliki biloks yang negative.

a.       a. Hidrogen dapat mempunyai biloks +1 atau -1 . Ketika terikat pada logam, seperti Na atau Ca, Hidrogen memiliki biloks -1. Ketika terikat pada non-metal, seperti C,N,O,atau Cl, hydrogen memiliko biloks +1.

b. Oksigen pada umumnya memiliki biloks -2. Pengecualian terbesar ketika senyawa itu disebut peroksida, ketika terdapat ion atau ikatan kovalen O – O pada sebuah molekul. Masing masing oksigen dalam suatu peroksida mempunya biloks -1.


a.       c. Pada umumnya halogen memiliki biloks -1. Pengecualian terdapat pada senyawa klorin, bromine atau iodine yang halogen itu terikat dengan oksigen. Contoh, biloks oksigen -2 dan halogen memiliki biloks yang positif. Contoh pada , Atom O mempunyai biloks -2 dan masing masing atom Cl memiliki biloks +1.


4.   4.  Jumlah biloks adalah 0 untuk senyawa netral dan untuk senyawa ion biloksnya sama dengan muatanya. Aturan ini sangat berguna untuk menentukan biloks pada sebuah atom dalam masalah yang kompleks. Pada umumnya, cara untuk menentukan biloks dimulai pada atom yang “mudah” diketahui biloksnya dahulu, kemudian penemuan biloks atom yang “sulit” dapat ditentukan melalui perhitungan. Sebagai contoh, kita cari biloks dari atom sulfur pada senyawa asam sulfat (). Masing masing atom H memiliki biloks +1 dan O berbiloks -2. Dapat dipastikan bahwa atom S memiliki biloks +6 untuk senyawa yang tidak bermuatan.


      Untuk menentukan biloks atom klor pada anion perklorat (), kita dapat hitung dari masing masing oksigen berbiloks -2, sehingga atom Cl memiliki biloks +7 untuk muatan senyawa adalah -1.
   
      Untuk menentukan biloks nitrogen dalam kation ammonium (), dapat kita ketahui bahwa biloks atom H adalah 1, sehingga dapat dihitung biloks atom N adalah -3. Pada kasus ini muatan senyawa adalah +1.